Konsumsi Pangan Seimbang untuk Keberlanjutan Ketahanan Pangan

Konsumsi aneka ragam pangan secara seimbang merupakan indikator untuk keberlanjutan ketahanan pangan. Hasil kajian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (2007) menyatakan bahwa terdapat kecenderungan  memposisikan terigu sebagai pangan pokok kedua setelah beras sedangkan peran umbi-umbian/pangan lokal sangat rendah. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 maupun RISKESDAS 2010, penduduk Indonesia masih mengalami masalah gizi yang ditunjukkan oleh prevalensi gizi kurang dan buruk pada balita.  Selain itu, Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang besar dan tersebar  dalam bebagai wilayah  serta  ekosistem dengan potensi pangan yang beragam. Adanya perubahan kondisi global yang menuntut kemandirian lokal, yang ditunjukkan oleh adanya : a) harga pangan internasional mengalami kenaikan sebesar 8-32 % (Laporan OECD-FAO Agricultural Outlook tahun 2007-2016) ; b) kompetisi pangan vs pakan vs energi; c) resesi ekonomi global; d) serbuan pangan asing (westernisasi diet) berpotensi sebagai penyebab gizi lebih, sehingga  meningkatkan ketergantungan pada impor, harga/zat gizi lebih mahal, dan juga merebut potensi kesejahteraan.

Pangan lokal/makanan etnis mempunyai peranan strategis dalam upaya pengembangan penganekaragaman pangan di daerah. Diversifikasi  pangan merupakan dasar pemantapan dan keberlanjutan ketahanan pangan daerah maupun rumahtangga yaitu terkait dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan (SDAL).

Aneka ragam pangan memiliki peran penting dalam mewujudkan perbaikan gizi masyarakat yang sekaligus dapat mendorong peningkatan kualitas sumberdaya manusia berkualitas di satu sisi dan menstimulir produksi pertanian dan aneka olahan pangan yang beragam. Sebaliknya dari sisi penawaran, produksi dan industri pengolahan pangan yang beragam memiliki peran yang signikan dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional, baik dalam kerangka menumbuhkan sumber-sumber pertumbuhan baru maupun mengurangi resiko gagal panen dan rendahnya harga suatu komoditas tertentu saat terjadi over supply.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s