Program ASI Ekslusif, Faktor Penghambat dan Pendorongnya

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007 menunjukkan bahwa program ASI ekslusif belum dapat dikatakan berhasil. Hal ini bias dilihat bahwa cakupan program ASI ekslusif belum 100% dan bahkan pencapaiannya masih naik turun. Tahun 2004 sampai 2006 mengalami kenaikan lalu di tahun 2007 kembali mengalami penurunan. Secara lebih jelas, data cakupan program ASI ekslusif tahun 2004 sampai dengan 2007 disajikan pada Grafik berikut.

Penelitian yang dilakukan oleh Afifah (2007) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan cakupan program ASI ekslusif masih rendah. Dalam penelitian ini, Faktor-faktor tersebut dikategorikan menjadi faktor pendorong, faktor pemungkin, faktor penguat, dan faktor penghambat ASI ekslusif.

  1. Faktor pendorong gagalnya pemberian ASI ekslusif yang diketahui dari penelitian Afifah (2007) ini adalah kurangnya pengetahuan subjek (ibu menyusui)  tentang ASI ekslusif dan kurangnya motivasi dari ibu untuk memberikan ASI ekslusif kepada bayinya. Dalam penelitian ini diketahui bahwa hanya 50% subjek (ibu menyusui) yang mengetahui tentang ASI ekslusif. Pada umumnya subjek penelitian pernah mendengar tentang ASI ekslusif tetapi tidak mengetahui maksudnya.  Selain itu, pengetahuan yang dimiliki subjek tentang ASI Eksklusif sebatas pada tingkat ”tahu bahwa” sehingga tidak begitu mendalam dan tidak memiliki keterampilan untuk mempraktekkannya. Jika pengatahuan subjek lebih luas dan mempunyai pengalaman tentang ASI Eksklusif baik yang dialami sendiri maupun dilihat dari teman, tetangga atau keluarga, maka subjek akan lebih terinspirasi untuk mempraktekkannya. Kurangnya pengetahuan tentang manfaat ASI ekslusif, menyebabkan motivasi subjek untuk memberikan ASI ekslusif pada bayinya juga menjadi kurang.
  2. Faktor penghambat pemberian ASI ekslusif menurut Afifah (2007) adalah adanya kebiasaan yang keliru dan promosi susu formula yang sangat gencar. Kebiaasan keliru ini bentuknya adalah pemberian prelaktal madu dan susu formula menggunakan dot kepada bayi baru lahir dan pemberian MP-ASI yang terlalu dini. Selain itu, kebiasaan yang keliru ini juga mencakup cara pemberian ASI yang salah/tidak sesuai konsep medis serta adanya berbagai tabu atau pantangan bagi ibu menyusui.  Contoh dari tabu atau pantangan makan yang salah ini adalah adanya larangan mengonsumsi bayam, ikan laut, dan sayur nangka bagi ibu menyusui di daerah Kerinci, bahkan di beberapa daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur (Maas, 2004 dalam Afifah, 2007). Promosi susu formula yang sangat gencar (bahkan sampai di RS dan klinik bersalin) memberikan pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi karena merupakan titik awal bagi ibu untuk memilih apakah tetap memberikan bayinya ASI eksklusif atau memberikan susu formula yang diberikan oleh petugas kesehatan maupun nonkesehatan sebelum ASI-nya keluar. Para subjek yang gagal memberikan ASI Eksklusif pada bayinya sebagian besar karena bayi telah diberi prelaktal susu formula saat masih di BPS/RB. Faktor penghambat pemberian ASI ekslusif yang berikutnya adalah masalah kesehatan yang dialami oleh ibu dan anak.
  3. Faktor penguat (reinforcingfactors) gagalnya pemberian ASIeksklusif adalah kurangnya penyuluhan atau pengarahan dari bidan/petugas kesehatan seputar menyusui saat memeriksakan kehamilan, anjuran dukun bayi untuk memberikan madu dan susu formula sebagai prelaktal, dan kuatnya pengaruh ibu (nenek) dalam pengasuhan bayi secara non-ASI Eksklusif.
  4. Faktor penghambatpemberian ASI Eksklusif adalah keyakinan dan praktik yang keliru tentang makanan bayi, promosi susu formula yang sangat gencar, dan masalah kesehatan ibu dan bayi. Keseluruhan faktor kegagalan ini bersifat struktural dan kultural sehingga menuntut strategi penanggulangan yang komprehensif.

Selain keempat faktor negatif yang telah disebutkan di atas, ada pula beberapa faktor positif yang memperkuat keberhasilan atau cakupan program ASI ekslusif. Berbagai faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Dukungan penuh dari pemerintah terhadap program ini yang diantaranya adalah keputusan menteri kesehatan, yaitu Kepmenkes RI No. 450/MENKES/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi Indonesia. Lebih rinci lagi, berbagai bentuk dukungan pemerintah ini diantaranya tertulis dalam Kebijakan Departemen Kesehatan tentang Peningkatan Pemberian ASI Pekerja Wanita tahun 2005. Berbagai strategi yang dirancang dalam Kebijakan Depkes (2005) ini adalah:
  • Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pihak manajemen untuk meningkatkan status kesehatan ibu pekerja dan bayinya.
  • Memantapkan tanggung jawab dan kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah yang terkait, asosiasi pengusaha, serikat pekerja, LSM dalam program pemberian ASI di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja.
  • Mengupayakan agar setiap petugas dan sarana pelayanan kesehatan di tempat kerja mendukung perilaku menyusui yang optimal melalui penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yang merupakan standar internasional.
  • Mengupayakan fasilitas yang mendukung PP-ASI bagi ibu yang menyusui di tempat kerja dengan: menyediakan sarana ruang memerah ASI, menyediakan perlengkapan untuk memerah dan menyimpan ASI, menyediakan materi penyuluhan ASI, serta memberikan penyuluhan tentang ASI.
  1. Bentuk dukungan untuk kesuksesan program ASI ekslusif yang lebih jauh adalah sudah adanya berbagai pemikiran mengenai bagaimana cara pemberian ASI ekslusif pada berbagai situasi darurat. Pardede (2009) menyebutkan bahwa strategi yang dapat ditempuh untuk mendukung program ASI ekslusif di saat darurat adalah sebagai berikut:
  • Tahap pra bencana atau potensi ada bencana perlu kesiap-siagaan, peringatan dini, dan anjuran bagi ibu agar tetap menyusui bayinya.
  • Berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam menyusun kebijakan pemberian makanan bayi dalam situasi darurat. Untuk itu para konselor dan fasilitator menyusui agar siap sedia membantu. Perlu diupayakan penyediaan ruang menyusui/tenda sayang bayi.
  • Tahap tanggap darurat dilakukan segera pada saat terjadi bencana, yang meliputi penyelamatan, evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengungsi, penyelamatan sarana dan prasarana, dengan tetap berkoordinasi dengan BNPB serta mengutamakan perlindungan terhadap ibu dan bayi, termasuk mendirikan tenda sayang bayi. Cegah masuknya bantuan berupa susu formula. Kalaupun harus diterima hanya diberi bagi bayi yang kehilangan ibu, dengan aturan pemberian yang tepat dan higienis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s