Tucker & Dale vs Evil, Gory, Sick, and Funny

This year spring break is cut short!

Wow, liat kan poster film di sebelah. Khas film slasher penuh darah yang tentunya bakalan jauh banget dari kesan lucu. Selain itu penampakan gambar poster sepertinya tidak akan banyak menarik perhatian orang karena tidak ada nama atau gambar bintang yang familiar. Even me, ga tertarik sama sekali waktu liat DVD film ini di mamang-mamang DVD bajakan, he…3x. Saya tertarik buat nonton film ini setelah sebelumya baca review di kaskus yang bilang klo film ini bagus banget karena sakit dan lucu banget. So jadi penasaran deh dan akhirnya saya balik lagi ke mamang-mamang DVD bajakan buat nyari film ini.

Review yang saya baca di kaskus  aslinya ada disini nih: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6052341&page=347

Dan ini review (by ramirezhate) yang saya maksud: Film ini meskipun tergolong lucu atau malah ada yang mengkategorikan sebagai parodi, tapi jangan dibandingkan dengan film-film parodi Hollywood yang makin lama makin aneh dan maksa (baca: “Meet The Spartan”, “Vampires Suck”, atau “Superhero Movie”). Film ini lebih tepat jika disebut sebagai slasher-comedy, karena film ini mencoba menggabungkan adegan-adegan berdarah yang biasa kita lihat di film-film slasher dengan komedi, tentu saja hasilnya adalah sajian yang unik dari sutradara debutan, Eli Craig. “Tucker & Dale vs Evil” tidak punya niatan untuk mengolok-ngolok film slasher, tetapi justru membawa genre tersebut ke level yang lebih konyol, seperti apa yang dilakukan oleh “Shaun of the Dead” (my most favorite zombie movie) dengan film zombie.

Jadi diceritakan ada dua “pria kampung” penebang kayu, Tucker (Alan Tudyk) dan Dale (Tyler Labine) yang baru saja membeli rumah di pinggir hutan untuk tempat untuk liburan. Dalam perjalanan menuju ke rumah yang dikelilingi hutan tersebut, mereka berpapasan dengan mobil sekelompok ababil dari kota yang juga sedang menuju lokasi yang sama, mereka hendak berkemah tak jauh dari rumah Tucker dan Dale. Disinilah kesalahpahaman itu bermula, dikarenakan wajah kedua sahabat yang lebih mirip “tukang jagal” ini, padahal Tucker dan Dale hanya orang biasa, kebetulan saja anak-anak kota ini terlalu paranoid dan dengan seenaknya mencap mereka yang tidak-tidak. Setelah bertemu di jalan, entah takdir atau kebetulan, mereka kembali bertemu di sebuah tempat pengisian bahan bakar. Tingkat paranoid Chad (Jesse Moss) dan kawan-kawan makin bertambah ketika Dale yang awalnya berniat menyapa salah-satu cewek bernama Allison (Katrina Bowden), itu juga karena desakan Tucker, malah dikira punya niat jahat, lagi-lagi karena salah paham.

Berada di tempat yang salah, waktu yang salah, dan mungkin ditambah tampang mereka yang “salah”, betul-betul dimanfaatkan dengan baik oleh “Tucker & Dale vs Evil” untuk mengarahkan kita jadi bulan-bulanan kelucuan duo Alan Tudyk dan Tyler Labine yang berperan sebagai dua sahabat karib Tucker dan Dale. Setelah anak-anak kota yang sudah terlalu berlebihan dengan paranoid-nya, termasuk lebay berteriak ketika mereka ternyata tidak membawa bir. Chad yang disini ditempatkan sebagai orang yang sok cool, sok ingin jadi pemimpin, pokoknya tipikal orang yang akan mati duluan (kalau di film-film slasher yang normal), adalah orang yang bertanggung jawab membuat teman-temannya semakin parno ketika dia menceritakan kisah seram yang terjadi di hutan yang sama, pembantaian para remaja yang terjadi 20 tahun yang lalu. Mimpi buruk pun tidak perlu menunggu lama untuk teresekusi, ya lagi-lagi karena kesalahpahaman dan lagi-lagi disana ada Dale dan Tucker. Mereka dituduh menculik Allison, padahal yang sebenarnya adalah mereka sedang menolong Allison yang tercebut ke danau, tetapi teman-teman yang lain terlalu parno dan histeris sampai-sampai melihat dengan sudut pandang sebaliknya.

Serangkaian kebodohan berdarah yang dipicu oleh kesalahpahaman pun kian menjadi-jadi sejak itu, sebuah hutan, anak-anak kota yang dungu, orang kampung yang lugu, jadi senjata ampuh untuk melancarkan serangan komedi yang bertubi-tubi dengan amunisi banyolan-banyolan yang cukup cerdas. Menonton “Tucker & Dale vs Evil” bisa dibilang tak ubahnya seperti terkena bacokan kampak, iya sakit tetapi sekaligus juga menggelitik sebab duo Alan Tudyk dan Tyler Labine secara bersamaan “menjilat-jilatkan” bulu ayam ke telapak kaki. Eli Craig saya akui mampu dengan baik membagi-membagi antara porsi konyol dengan kesadisannya, adegan-adegan yang disiapkan untuk mengguyur adrenalin dan mental dengan darah dapat dibuat untuk begitu akur dengan selipan-selipan adegan pemicu gelak tawa. Tololnya, karena komedi inilah, adegan-adegan yang seharusnya kita respon dengan sorak-sorai histeris justru berubah menjadi gemuruh tawa. Bagaimana tak menjadi konyol dan lucu, ketika alasan-alasan kematian anak-anak kota yang paranoid tersebut disebabkan sebuah kesalahpahaman yang memang sepele dan juga bodoh.

Tidak hanya kesalahpahaman yang jadi pemicu utama setiap kelucuan yang meledak di “Tucker & Dale vs Evil”, tetapi juga ditambah dengan nasib sial anak-anak kota ini, well akhirnya sudah bisa ditebak, salah paham dan nasib sial pun menjadi sajian komedi yang mengenyangkan. Belum lagi film ini juga menambah semarak guyonannya tidak hanya dari visualnya yang goblok tetapi juga dialog-dialog lucu yang keluar dari mulut kedua badutnya, terutama Tyler Labine yang sudah saya kenal memang kocak di sebuah serial televisi berjudul “Reaper”. Di film ini, sebagai Dale yang terlihat lugu, melihat wajahnya saja sebetulnya sudah mujarab membuat saya tertawa, entah kenapa Chad dan teman-temannya justru bisa-bisanya melihat dia sebagai seorang psikopat.

Oke “Tucker & Dale vs Evil” sudah sukses menjungkir-balikkan pakem film slasher konvensional, membuat saya tertawa sambil jungkir balik juga ketika melihat korban demi korban berjatuhan, kematian yang memilukan sekaligus menyenangkan. Alan Tudyk dan Tyler Labine juga tidak hanya handal dalam urusan mengocok perut, mereka juga anehnya membuat saya bersimpati, itu jelas karena persahabatan keduanya yang terjalin dengan chemistry yang kuat. Sadis, lucu, seru, “Tucker & Dale vs Evil” juga masih menambahkan kisah romansa kedalam ceritanya, jadi sudah cukup alasan yang menjadikan film ini begitu lengkap sebagai hiburan yang menyenangkan. Bersenang-senang dengan kematian, itulah “Tucker & Dale vs Evil”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s