Cost Effectiveness Program Perbaikan Gizi

Drummond, Stoddart, dan Torrance (1987) dalam Heryatno (2005) mendefinisikan analisis ekonomi sebagai suatu analisis perbandingan antara berbagai alternatif tindakan yang diambil atau dilakukan dengan besarnya biaya yang dikeluarkan dan output atau manfaat yang diperoleh.  Berdasarkan definisi tersebut, maka analisis ekonomi juga berlaku untuk berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan, baik yang bersifat individu/pribadi maupun yang bersifat komunitas atau masyarakat.

Program perbaikan gizi merupakan tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki status gizi dengan tujuan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan agar kesejahteraan meningkat. Meskipun pada mulanya program perbaikan gizi dilakukan dengan alasan terbesar adalah karena alasan sosial atau kemanusiaan, tetapi saat ini program perbaikan gizi juga sudah dipandang sebagai suatu investasi, yaitu investasi untuk perbaikan mutu sumberdaya manusia (World Bank 2006).  Oleh karena itu, maka berbagai perencanaan upaya perbaikan gizi saat ini juga harus mempertimbangkan aspek ekonomi agar diketahui sampai seberapa besar perbaikan gizi yang bisa dilakukan serta manfaat ekonomi yang dapat diperoleh agar program gizi dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

Ukuran yang umum digunakan untuk analisis ekonomi program perbaikan gizi adalah cost effectivenes dan cost benefit. Untuk dapat melakukan analisis ini, maka tujuan program, keluaran, manfaat, dan sasaran program harus dapat diidentifikasi dengan jelas. Tahap identifikasi berbagai indikator tersebut merupakan tahap yang sangat penting karena akan menentukan apakah sumberdaya yang dimiliki akan diinvestasikan untuk suatu program perbaikan gizi atau program yang lain (Heryatno 2005).

Besaran biaya kesehatan yang direkomendasikan oleh WHO sebagai tanggung jawab pemerintah adalah sebesar US$ 35-40/kapita/tahun atau setara dengan Rp 74,2 triliun (estimasi penduduk tahun 2008 adalah 230 juta) dengan kurs US$ 1 sebesar Rp 9.200. Berdasarkan berbagai perhitungan yang telah dilakukan oleh BAPPENAS, maka untuk tahun 2008 masih ada gap sebesar 38% dengan rekomendasi WHO atau sebesar Rp 28 triliun (BAPPENAS 2007).

Lebih jauh, dalam laporan kajian BAPPENAS (2007) dijelaskan bahwa kondisi pendanaan tahun 2008 menghadapi kendala besar karena harga minyak yang melambung tinggi dan pengaruh perekonomian dunia menyebabkan yang penurunan penerimaan negara sebesar sekitar 15%. Dengan adanya perkembangan ini pemerintah melakukan berbagai efisiensi dalam bentuk pemotongan anggaran kementerian dan lembaga sebesar 15% (untuk menjaga stabilitas anggaran negara tahun 2008). Permasalahannya adalah pemangkasan tersebut disamaratakan untuk setiap departemen sehingga diperkirakan kebijakan ini membawa dampak buruk terhadap komitmen pencapaian MDGs (penanganan permasalahan gizi dan kesehatan). Oleh karena itu, analisis ekonomi (cost effectiveness dan cost benefit) untuk program perbaikan gizi dan kesehatan di Indonesia jadi sangat penting dilakukan tidak hanya untuk memperoleh program perbaikan gizi yang berhasil secara gizi dan kesehatan tetapi juga merupakan investasi secara ekonomi yang menguntungkan.

Hasil kajian menunjukkan bahwa program perbaikan gizi yang paling cost effectiveness adalah promosi, kampanye, dan advokasi gizi, pelatihan teknis dan manajemen puskesmas, serta penanganan masalah anemia pada bayi dan balita yang terintegrasi dalam MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sehat).

Program perbaikan gizi melalui promosi, kampanye, dan advokasi gizi, pelatihan teknis dan manajemen puskesmas memiliki nilai cost effectiveness yang tinggi, tetapi perbaikan masalah gizi melalui upaya ini memerlukan waktu yang cukup lama karena menyangkut perubahan perilaku.

Perbaikan masalah anemia bagi bayi dan balita yang terintegrasi dengan MTBS, meskipun bukan yang paling cost effectiveness secara biaya tetapi mampu memberikan dampak perbaikan yang paling cepat sehingga dari keseluruhan upaya perbaikan gizi, upaya perbaikan defesiensi gizi mikro ini merupakan upaya yang terbaik. Horton (1992) menyebutkan bahwa intervensi zat gizi mikro hanya memerlukan biaya sebesar $ 0,04 – $ 4 per orang per tahun, dan biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih rendah jika upaya tersebut dilakukan melalui fortifikasi daripada dengan suplementasi. Hal ini sejalan dengan berbagai hasil penelitian terakhir yang menyebutkan bahwa fortifikasi zat gizi mikro merupakan upaya perbaikan gizi yang paling cost effectiveness.

One thought on “Cost Effectiveness Program Perbaikan Gizi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s