SERBUAN MAUT

Ya, itu adalah judul versi Indonesia untuk film The Raid yang baru saja tayang perdana saat 23 Maret 2012 kemarin. The Raid sebagai salah satu film Indonesia yang dirilis tahun ini setelah sebelumnya keliling manca negara dan menuai banyak pujian, review positif, serta penghargaan tentu menjadi salah satu film yang paling dinanti oleh banyak moviegoers Indonesia, termasuk saya.

Jadi ceritanya sejak seminggu lalu, saya udah mulai mantengin thread The Raid di forum movie favorit saya, apalagi kalau bukan kaskus,… (^_^). Baca-baca di threadnya bikin saya makin tergiur untuk nonton film ini. Tapi lagi-lagi mikir dan tentu membandingkan dengan saudara tuanya (baca: Film Merantau) yang menurut saya nilainya masih so.. so.. aja. So, karena film masih belum tayang akhirnya cari trailernya di Youtube. Kesan setelah lihat trailernya adalah, “Gahar juga nih film, kayanya ok, dan ga ada karakter cewe yg bakalan bikin riweuh tokoh utama (lagi-lagi, baca Film Merantau)”. Akhirnya saya pun membulatkan tekad buat nonton film ini saat premiernya.

Singkatnya film ini bercerita tentang upaya penyerbuan tim khusus dari kepolisian ke sebuah apartemen berlantai 16 yang dihuni oleh para penjahat mulai dari yang kelas teri sampai kelas kakap. Sersan Jaka (Joe Taslim) yang memimpin operasi penyerbuan berusaha untuk menangkap Tama (Ray Sahetapi), bos penjahat paling dicari yang juga sekaligus berperan sebagai penguasa apartemen. Sebagai bos penjahat tentu Tama juga memiliki tangan kanan dan kiri, yaitu Andy (Donny Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhian).

Akhirnya setelah perjanan panjang dari rumah ke bioskop, dan penantian sekitar 2 jam saya pun duduk manis di dalam bioskop, tentunya dengan istri tercinta yang kayanya udah ogah-ogahan, bete berat, ga tau lah apa sebabnya (maafkan keegoiesan suamimu ini ya istriku, … (^_^). Ok back to movie.

Adegan dibuka dengan Rama (Iko Uwais) solat subuh yang back to back dengan adegan Rama berlatih silat di dojo. Adegan ini dilanjutkan dengan persiapan Rama untuk bertugas setelah sebelumnya berpamitan dengan istrinya yang sedang hamil. Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa film ini bertempo sangat cepat karena setelah itu adegan langsung berganti ke jalan raya dimana sebuah mobil tim penyerbu melaju kencang di tengah guyuran hujan deras kota Jakarta. Di dalam sang komandan mulai menjelaskan rencana penyerbuan sambil kamera mengambil gambar ke seluruh karakter anggota pasukan penyerbu sebagai adegan pengenalan karakter. Saat adegan berpindah ke pengenalan karakter antagonis maka mulailah film ini menunjukkan bahwa film ini memang film keras (yang sangat dibenci istriku). Adegan ini juga sekaligus menegaskan bahwa isi sepanjang film ini akan penuh adegan gun fighting, darah, dan baku hantam. Adegan ini juga sekaligus akan membawa penonton untuk langsung tune in dengan cerita filmya yang mengalir cepat.

Gun fighting dan baku hantam (dengan silat) sebagai jualan film ini memang diberi porsi yang pas. Semua pemain yang memiliki adegan fighting, termasuk yang cuma jadi karakter kroco mampu menampilkan adegan pertarungan yang real, keras, cepat, dan keren. Dari film ini saya jadi kebayang bahwa ternyata silat sangat keren dan mematikan. Untuk urusan adegan fighting ini yang tentunya sangat mencuri perhatian tentu saat dalam scene ada Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Rama (Iko Uwais).  Mad Dog saya tulis duluan karena dalam setiap scenenya dia selalu menjadi perhatian utama, yah kaya dulu kasus Jokernya Heath Ledger di TDK (lebay mode on).

Selain adegan fighting yang cepat, film ini juga memiliki beberapa scene yang mungkin dimaksudkan untuk memberi nafas pada penonton serta beberapa scene yang cukup membuat saya tersenyum, entah adegan itu memang dibuat untuk menjadi adegan lucu atau karena memang akting dari aktornya yang akhirnya membuat adegan normal itu jadi terlihat lucu.

Film ini juga bukannya tak memiliki kekurangan. Yang paling menonjol mungkin karena keterbatasan pemeran sehingga ada karakter kroco yang sudah tewas di scene sebelumnya, ternyata bertarung lagi dengan tokoh utama (tentunya untuk kemudian dibunuh lagi) meskipun sudah berusaha diberi kostum dan make up yang berbeda. Tapi hal ini juga tentunya tidak terlalu mengganggu karena adegan berlangsung sangat cepat. Lalu adegan sniper yang terlihat canggung, serta minimnya penjelasan atau alasan terselubung penyerbuan yang mungkin memang sengaja untuk tidak ditampilkan secara gambalang karena denger-denger film ini mau dibuat sekuelnya (baca Berandal).

Akhir kata, tak heran jika dengan segala kelebihannya film ini mampu menarik perhatian Hollywood untuk meremakenya, meskipun katanya hak remake jatuh ke studio Lionsgate. Ini bikin saya jadi pesimis, khawatir kalau remakenya nanti cuma jadi film action kelas B, karena mungkin silat yang jadi jualan unggulan film ini berganti dengan bela diri yang lain. Jadi, mumpung masih ada kesempatan, ayo segera nonton film aslinya aja, dan untuk skor keseluruhan, menurut saya film ini sangat layak untuk dapat nilai 8,5/10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s